Kamis, 24 Juni 2010

Jakarta, Kompas – Pemberian air susu ibu atau ASI tidak hanya bermanfaat bagi bayi, tetapi juga sang ibu. Kesehatan ibu meningkat dan angka kematian ibu pasca-persalinan bisa berkurang.

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, angka kematian ibu masih terbilang tinggi, yakni 228 per 100.000 kelahiran hidup. Ibu meninggal terutama terjadi pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas.

Sesuai tujuan pembangunan milenium (MDG), angka kematian ibu (AKI) pada 2015 ditargetkan turun menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup.

”Saat bayi mengisap payudara ibu, hormon oksitosin akan dilepaskan oleh tubuh dan merangsang rahim untuk berkontraksi dan mengeluarkan sisa-sisa kotoran, termasuk plasenta. Pendarahan juga akan berkurang,” ujar Ketua Bidang Kesehatan Ibu dan Anak Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, (IDI) Prof Ali Bazad. Hal itu dikemukakannya dalam jumpa pers terkait peluncuran Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak Menuju Pencapaian Tujuan Pembangunan Milennium 2015 dan Lokakarya Nasional ”Konsolidasi Organisasi Nonpemerintah dalam Kesehatan Ibu dan Anak Menuju Pencapaian MDG 2015”, Rabu (23/6).

Inisiasi menyusui dini (IMD), yakni meletakkan bayi di atas perut ibu dan membiarkan bayi mencari puting susu ibunya sendiri, ikut merangsang pelepasan oksitosin. Dengan menyusui, kesuburan ibu akan menurun sehingga terhindar dari kehamilan dalam interval waktu singkat. Dengan demikian, ibu berkesempatan mengembalikan kualitas kesehatannya dan merawat bayinya secara maksimal.

Ketua Sentra Laktasi Indonesia Utami Roesli dalam kesempatan yang sama mengatakan, IMD dan ASI eksklusif merupakan cara sederhana yang dapat dilakukan secara merata oleh seluruh ibu di Indonesia. ”Cara ini mempercepat peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak tanpa mengeluarkan biaya besar, mudah, dan aman,” ujarnya.

Gerakan

Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak Menuju Pencapaian MDG 2015 diluncurkan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono. Gerakan itu melibatkan organisasi nonpemerintah (NGO) serta organisasi masyarakat madani (CSO) internasional,

tingkat nasional, dan perwakilan pemerintah serta organisasi nonpemerintah dari 10 provinsi dengan angka kematian anak balita terburuk. Agung Laksono mengatakan, diantara target MDG lainnya, penurunan angka kematian ibu dan anak serta peningkatan kualitas kesehatan mereka terbilang yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Direktur Advokasi World Vision Indonesia sekaligus Ketua Panitia Lokakarya Nasional Asteria Aritonang mengatakan, meskipun status kesehatan anak di Indonesia meningkat 10 tahun terakhir, penurunan angka kematian anak cenderung lambat. ”Jika kondisi ini berlanjut, Indonesia dipastikan tidak dapat mencapai target MDG 2015, yaitu 23/1.000 untuk angka kematian bayi, dan 32/1.000 untuk angka kematian anak balita,” ujarnya.(INE)

Sumber: Kompas.Cetak (24/6)

Share/Bookmark