Maraknya aksi porongrafi melalui berbagai media memberikan dampak yang tidak baik terhadap anak-anak. Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen,Fakultas Ekologi Manusia IPB, Tin Herawati, SP.,M.Si., khawatir terhadap perkembangan anak-anak, dan menandaskan bahwa keluarga merupakan faktor terpenting untuk membentenginya dari berbagai aksi yang merusak moral tersebut.

Pemaparan Tin tersebut disampaikan pada dialog sore RRI dengan mengusung tema: “Peran Keluarga dalam Membentengi Aksi Pornografi”, dengan presenter Yudha Permana di RRI Cabang Bogor, (15/6), Bogor.

Sebelum masuk ke dalam peran keluarga dalam membentengi terhadap aksi tersebut, Tin memaparkan alas an seseorang melakukan aksi pornografi, hingga sampai mendokumentasikannya. “Latar belakang mereka melakukan hal seperti itu bisa disebabkan dari  tiga hal yaitu  diri sendiri keluarga dan lingkungannya. Diri sendiri, biasanya agama yang kurang, memiliki kelainan perilaku karena yang bersangkutan pernah mengalami kekerasan seksual, pernah melihat kegiatan seksual pada masa kecil, serta pemahaman sex yang kurang,” ujar Tin.

Untuk faktor Keluarga, ia mengatakan kurangnya kontrol keluarga kepada anak dan tidak ada komunikasi dari kedua belah pihak. “Bagaimana kegiatan anak di luar, orang tua seperti ini biasanya tidak mau tahu, yang penting anaknya enjoy dan senang,” tambahnya.

Faktor lain yang mendorong seseorang melakukan aksi pornografi adalah Lingkungan. Tin mengakui, sekarang informasi tidak bisa dibendung, akibatnya segala kegiatan, tidak terkecuali ranah privacy orang bisa dilihat oleh publik.

Peran keluarga
Tin mengatakan, di sinilah fungsi keluarga harus ditingkatkan dengan cara mendampingi, membimbing dan berkomunikasi secara terbuka kepada anak. Sampaikanlah kepada anak komunikasi yang baik, dan selalu siap jika anak menanyakan sesuatu. “Memberikan pendidikan sex  harus sesuai umurnya,”katanya.

Menurutnya, pola pengasuhan anak ada beberapa macam diantarannya adalah otoriter dan demokrasi. “Perilaku anak  tergantung dari pengajaran orang tuanya. Anak menutup diri atau ceria itu juga akibat dari pengasuhan orang tua. Anak jangan terlalu dikekang, dan budayakan keterbukaan dan demokrasi” ujarnya. (man)

Senin, 28 Juni 2010 – http://www.ipb.ac.id/?b=1657

Share/Bookmark