Jakarta,- . Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta ke 483 yang jatuh pada 22 Juni 2010, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan pokok-pokok pikiran refleksi sebagai berikut:

1. KPAI mengapreasiasi berbagai upaya Pemda DKI Jakarta untuk menjadikan Jakarta sebagai ibukota negara yang lebih modern, beradab, tertib dan nyaman di antaranya melalui gerakan penghijauan kota, program kali bersih, dan larangan merokok pada kawasan publik utamanya perkantoran. Upaya ini hendaknya terus dilakukan secara berkesinambungan sehingga menjadi kebiasaan bagi warga ibukota. Untuk menjamin hal tersebut penegakan hukum yang tegas dan konsisten hendaknya terus dilakukan.

2. Sampai hari ini Jakarta belum menjadi kota ramah anak. Hal ini tampak pada fakta-fakta lapangan sebagai berikut:

  • Jumlah taman kota yang bisa diakses oleh setiap anak masih sangat kurang.
  • Perencanaan pembangunan infrastruktur perkotaan, seperti jalan raya, jembatan layang, mall, dan permukiman belum berperspektif anak. Akibatnya di tempat-tempat tersebut seringkali membawa korban pada anak seperti anak-anak yang terjepit pada eskalator, anak yang tertabrak busway, anak yang jatih dari fly over, maupun anak yang jatuh dari rumah susun.
  • KPAI masih sering menerima pengaduan dari masyarakat walaupun sudah ada kebijakan penerbitan akte gratis untuk anak, dalam kenyataannya para pemohon akte kelahiran masih dikenai pungutan-pungutan tidak resmi yang mencapai ratusan ribu rupiah per akta kelahiran.
  • Demikian pula untuk pendidikan di sekolah-sekolah negeri. Berbagai pungutan yang mencapai jutaan rupiah masih dikenakan oleh sekolah sehingga kebijakan pendidikan gratis di ibukota hanya menjadi slogan, karena dalam kenyataannya orang tua wali murid harus membayar banyak pungutan.
  • Pola penertiban anak jalanan masih menggunakan pendekatan kekerasan dan kriminalisasi anak. Akibatnya pada tanggal 3 dan 6 Maret 2010, 3 anak di Jakarta Timur dan Jakarta Barat meninggal tercebur ke sungai saat dalam pengejaran para Satpol PP. Ke depan, pendekatan persuasif dan solutif hendaknya lebih dikedepankan.

3. Sampai hari ini, KPAI belum melihat penyelesaian secara hukum dan tuntas atas kasus eksploitasi anak dalam kerusuhan di Tanjung Priok tanggal 14 April 2010. Padahal dalam kerusuhan tersebut jatuh korban luka-luka berat dan ringan pada anak baik karena tindakan kekerasan oleh Satpol PP maupun oleh pihak bertikai yang melibatkan anak. KPAI meminta, agar Pemda DKI segera menyelesaikan ini lebih serius.

Jakarta, 21 Juni 2010

Ketua KPAI

ttd

Hadi Supeno

Sumber : KPAI

Share/Bookmark