Date: 21 June 2010

KPAI: Jakarta Belum Ramah Anak

Jakarta,- . Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta ke 483 yang jatuh pada 22 Juni 2010, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan pokok-pokok pikiran refleksi sebagai berikut:

1. KPAI mengapreasiasi berbagai upaya Pemda DKI Jakarta untuk menjadikan Jakarta sebagai ibukota negara yang lebih modern, beradab, tertib dan nyaman di antaranya melalui gerakan penghijauan kota, program kali bersih, dan larangan merokok pada kawasan publik utamanya perkantoran. Upaya ini hendaknya terus dilakukan secara berkesinambungan sehingga menjadi kebiasaan bagi warga ibukota. Untuk menjamin hal tersebut penegakan hukum yang tegas dan konsisten hendaknya terus dilakukan.

2. Sampai hari ini Jakarta belum menjadi kota ramah anak. Hal ini tampak pada fakta-fakta lapangan sebagai berikut:

  • Jumlah taman kota yang bisa diakses oleh setiap anak masih sangat kurang.
  • Perencanaan pembangunan infrastruktur perkotaan, seperti jalan raya, jembatan layang, mall, dan permukiman belum berperspektif anak. Akibatnya di tempat-tempat tersebut seringkali membawa korban pada anak seperti anak-anak yang terjepit pada eskalator, anak yang tertabrak busway, anak yang jatih dari fly over, maupun anak yang jatuh dari rumah susun.
  • KPAI masih sering menerima pengaduan dari masyarakat walaupun sudah ada kebijakan penerbitan akte gratis untuk anak, dalam kenyataannya para pemohon akte kelahiran masih dikenai pungutan-pungutan tidak resmi yang mencapai ratusan ribu rupiah per akta kelahiran.
  • Demikian pula untuk pendidikan di sekolah-sekolah negeri. Berbagai pungutan yang mencapai jutaan rupiah masih dikenakan oleh sekolah sehingga kebijakan pendidikan gratis di ibukota hanya menjadi slogan, karena dalam kenyataannya orang tua wali murid harus membayar banyak pungutan.
  • Pola penertiban anak jalanan masih menggunakan pendekatan kekerasan dan kriminalisasi anak. Akibatnya pada tanggal 3 dan 6 Maret 2010, 3 anak di Jakarta Timur dan Jakarta Barat meninggal tercebur ke sungai saat dalam pengejaran para Satpol PP. Ke depan, pendekatan persuasif dan solutif hendaknya lebih dikedepankan.

3. Sampai hari ini, KPAI belum melihat penyelesaian secara hukum dan tuntas atas kasus eksploitasi anak dalam kerusuhan di Tanjung Priok tanggal 14 April 2010. Padahal dalam kerusuhan tersebut jatuh korban luka-luka berat dan ringan pada anak baik karena tindakan kekerasan oleh Satpol PP maupun oleh pihak bertikai yang melibatkan anak. KPAI meminta, agar Pemda DKI segera menyelesaikan ini lebih serius.

Jakarta, 21 Juni 2010

Ketua KPAI

ttd

Hadi Supeno

Sumber : KPAI

Share/Bookmark

KPAI : PELAKU VIDEO PORNO HARUS DIHUKUM

Jakarta,-  KPAI menilai proses pengusutan video porno yang diduga dilakukan oleh Ariel, Luna Maya dan Cut Tari masih terlalu lamban. Padahal anak-anak dan masyarakat pada umumnya telah menjadi korban akibat berita pornografi yang kini makin merebak.

Oleh karena itu, KPAI meminta kepolisian untuk tidak ragu-ragu mengusut pelaku dan pengedarnya. Jika terbukti, pelaku dalam tayangan itu serta para pengedarnya harus dapat dijerat oleh hukum sesuai KUHP, UU ITE dan UU Pornografi.

Terkait penanganan pornografi di kalangan siswa, KPAI memberikan apresiasi yang tinggi atas respon Menteri Pendidikan Nasional dan jajaran birokrasi pendidikan, dengan melakukan operasi atau razia HP di kalangan pelajar. “Namun KPAI mengingatkan agar operasi tersebut jangan sampai menjadi kriminalisasi bagi anak, dengan memberikan hukuman. Sebab anak adalah korban dari industri pornografi, para pembuat video, dan korban orang-orang dewasa yang tidak mampu mencegah beredarnya materi pornografi yang mestinya dihukum  ”kata Ketua KPAI, Hadi Supeno di Ambon (16/6) kemarin. Oleh sebab itu, yang dibutuhkan oleh anak-anak adalah bantuan, bimbingan, dan pemulihan mental, bukan malah menghukumnya.

Dalam aspek lain, KPAI sesuai suratnya kepada Mendiknas yang dikirim Kamis (17/6) berharap Kementerian Pendidikan Nasional perlu menginisiasi “Pendidikan Seks” di sekolah kepada siswa sesuai tingkatan usianya, dengan materi utama bagaimana mengelola seks dengan kacamata moral dan agama, sehingga anak-anak memiliki bangunan karakter yang kuat karena menerima pengetahuan dengan bekal yang cukup dari sisi ilmu, moral, dan agama.

Selain itu, KPAI juga meminta Kementerian Agama untuk menyerukan kepada seluruh organisasi agama, termasuk didalamnya semua media dakwah untuk memerangi pornografi dan memperkuat ketahanan keluarga dengan program-program bangunan keluarga Sakinah, mawadah, wa rohmah. “untuk mencegah bahaya pornografi, disinilah pentingnya memberikan prioritas penanaman nilai-nilai agama kepada anak-anak sejak di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat”tambah Hadi.

KPAI juga akan menindaklanjuti rekomendasi Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Kemenkominfo, Dewan Pers dan KPI (16/6) lalu. Seperti diketahui, salahsatu rekomendasi rapat kerja itu, antara lain Komisi I mendorong Kemenkominfo agar berkoordinasi dengan Kemenristek, Kemendikbud, Kemenkes, dan kementerian lainnya serta Polri, Komnas HAM, dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia. “Tujuannya agar mengantisipasi kejadian serupa yang berpotensi merusak moral bangsa,” ujar Ketua Komisi I DPR, Kemal Azis Stamboel di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/6/2010). (red/kpai)

Sumber : KPAI

Belajar Tumbuh Kembang Anak di Jumling IPB

Kali ini Jum’at Keliling atauJumling Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPB digelardi Desa Neglasari (11/6). Ibu-ibu yang hadir membawa serta buah hatinya.Jumling kali ini, membuka konsultasi pengasuhan dan tumbuh kembang anak.

“Pasti ibu-ibu mau bertanyakenapa anak suka susah makan. Anaksuka dan tidak suka makan ada faktor yang mempengaruhi. Yakni, melihatkebiasaan makan orang tuanya,” ujar Ir. Meli Latifah, M.Si staf pengajarDepartemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB.
Selain mengenai pola makan, Ir Meli menyarankan agar sebelum memasukijenjang sekolah dasar, anak sudah dibekali preelementary school. Ini penting, agar masa transisi yang dialami oleh anak lebihhalus atau tidak frontal.
Pre elementary school bisaberupa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK). DepartemenIKK sudah mengembangkan dua buah PAUD di desa Ciampea. Ke depan semoga kamijuga bisa membuka PAUD di 14 desa lingkar kampus,” tuturnya.
Sementara program aksi yang dilakukan di desa Neglasari adalah Posdaya, UKMPangan, Keamanan Pangan, Klinik Tanaman, Bambu (budidaya, pangan dan bahankonstruksi), Penyerahan Bibit Tanaman. Hadir dalam acara Jumling, yakni DekanFakultas Ekologi Manusia, Dr. Ir. Arif Satria, Ketua Departemen GiziMasyarakat, Dr. Budi Setiawan, Ketua Departemen IKK, Dr. Hartoyo beserta stafserta para Kader Posdaya,.(zul)

Senin, 21 Juni 2010 – http://www.ipb.ac.id/?b=1647

welcome to fnc 2010

salah satu program kerja tahunan himaiko dari divisi Human Resourcesyaitu Family & Consumer Day.  Acara tersebut diadakan pada tanggal 1 Agustus 2010, perlu diketahui bahwa acara Family & Consumer Day yang merupakan yang ketiga kalinya. Rangkaian kegiatan terdiri dari Lomba-lomba dan Talkshow.

© 2017

Theme by Anders NorenUp ↑