Month: June 2010 (page 1 of 4)

UNICEF – Kaskus meluncurkan kanal anak di komunitas online terbesar di Indonesia

Share/Bookmark

HENTIKAN DEMO MENDUKUNG ARIEL PETERPAN

JAKARTA—bkkbn online : Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengimbau berbagai pihak untuk menghentikan demo-demo mendukung Ariel Peterpan, tersangka pemeran video porno. Karena dampak dari video mesum itu telah menyebabkan sedikitnya terjadi enam kasus perkosaan dan percobaan perkosaan.

Menurut pemantauan Komnas Perlindungan Anak, gara=-gara menonton video porno Ariel, sedikitnya telah terjadi empat kasus perkosaan dan dua kasus percobaan perkosaan. Kasus perkosaan tersebut masing-masing terjadi di Belawan, Medan, dua siswa SMP memperkosa seorang perempuan secara bergiliran seusai nonton video tersebut. Kasus serupa juga dilakukan dua murid SD di Surabaya dan terakhir kasus percobaan perkosaan oleh siswa SMP di Bekasi, jawa Barat. Namun yang disebut terakhir korbannya berhasil menyelamatkan diri karena berteriak.

Arist meminta masyarakat sebaiknya membiarkan pihak kepolisian menuntaskan kasus ini dan segera menangkap pengedarnya (uploader) sebagai pihak yang melakukan pelanggaran paling berat.(adl/tb).

HIV AIDS DI SEKITAR ANAK JALANAN

HIV AIDS DI SEKITAR ANAK JALANAN
(Zezen Mukhammad Ansor)

Belakangan anak yang hidup di jalan pengidap HIV/AIDS kian memprihatinkan. Anak yang hidup di jalanan rawan terkena Human immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Dari 144.889 orang anak jalanan, 8.581 anak terinfeksi HIV. Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan, Sri Astuti Soeparmanto menyatakan dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus HIV/AIDS.

Secara kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan sampai Desember 2008 berjumlah 8.194 kasus, sedangkan kasus HIV yang dilaporkan 5.230 kasus. Hasil estimasi populasi rawan tertular HIV tahun 2008 sejumlah 193 ribu orang. Dari kasus AIDS yang dilaporkan, 54,76 persen terjadi pada usia 20-29 tahun. Sampai Juni 2008, jumlah pengidap AIDS yang dilaporkan telah mencapai 9.689 kasus, sedangkan kasus HIV yang dilaporkan 5.813 kasus. Urutan kelompok resiko tinggi tertular HIV/AIDS adalah pengguna jarum suntik (IDU), pekerja seks komersial, anak jalanan dan ibu rumah tangga.

Di kalangan pegiat AIDS anak jalanan dan ibu rumah tangga merupakan kelompok resiko yang perlu perhatian serius. Seperti fenomena gunung es, kasus anak jalanan yang terinfeksi HIV/AIDS diperkirakan masih akan terus bertambah. Kehidupan seks bebas di kalangan anak jalanan menjadi penyebab cepatnya penyebaran virus HIV/AIDS.

Gaya hidup bebas dan terbatasnya informasi mengenai seks aman bagi mereka menyebabkan penyebaran kian tidak terkendali. Sayangnya anak-anak ini terpisah dari orang tua sehingga mempersulit dalam upaya pencegahan dan pembinaan. Terlebih, kur¬angnya pemahaman mereka mengenai seks aman untuk meng¬hindari timbulnya berbagai penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS.

Seringnya berganti-ganti pasanga membuat ran¬tai penularan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu su¬lit ditelusuri. Hal ini diperparah dengan kebijakan pemerintah da¬lam penanganan HIV/AIDS, di mana identitas ODHA (orang d¬e¬ngan HIV/AIDS) disembunyikan dan tidak boleh dipublikasikan. Mobilisasi anak jalanan yang sangat tinggi di berbagai kota juga disinyalir menjadi penyebab cepatnya rantai penyebaran HIV/AIDS di kalangan anak jalanan.

Meski terdapat banyak lembaga yang memiliki fokus perhatian pada pendampingan anak-anak jalanan, keterbatasan anggaran sering menjadi penyebab mengapa pemantauan tidak efektif. Pendamping tidak memiliki shelter-shelter yang memadai bagi mereka yang dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS. Bahkan, mungkin yang bersangkutan tidak mengetahui dirinya ter¬infeksi HIV/AIDS.

Padahal, jika informasi tidak disampaikan, ODHA tersebut tidak mengetahui bahwa dia berpotensi untuk me¬nularkan HIV/AIDS. Tidak adanya perbaikan pola hidup yang selama ini dijalani, membuat penularan HIV/AIDS tidak terkontrol. Ji¬ka persoalan seperti ini tidak segera ditangani, bisa dipastikan be¬berapa tahun mendatang akan terjadi ledakan kasus HIV/AIDS. Anak jalanan memperoleh informasi seksnya dari teman sebaya atau anak jalanan yang lebih tua, baik buku porno, film/VCD porno atau mengintip orang yang sedang melakukan hubungan seksual.

Mudahnya memperoleh pengetahuan mengenai seks mempengaruhi sikap anak jalanan terhadap hubungan seksual. Pergaulan antar teman juga merupakan sarana yang efektif untuk saling bertukar informasi termasuk pengetahuan mengenai seks. Tak mengherankan banyak anak jalanan usia belasan tahun sudah mahir praktek seks.

Terlebih, anak-anak jalanan terkadang memiliki anggapan hubungan seksual di luar nikah sebagai hal yang wajar, karena itu merupakan urusan dari anak jalanan itu sendiri dan tidak mengganggu kepentingan orang lain. Jika disimak, secara moral hubungan seks di luar nikah jelas diharamkan.
Di samping itu, dari segi kesehatan hubungan seks yang tidak sehat, apalagi bagi anak-anak yang masih di bawah umur, mengandung risiko yang fatal, mulai dari penyakit menular seksual (PMS) hingga ancaman terkenaHIV/AIDS. Sayang sekali jika anak-anak yang masih perlu perlindungan itu menderita penyakit-penyakit yang mungkin sebelumnya tidak mereka ketahui.

Peran para pekerja sosial dan masyarakat lainnya dalam membantu anak jalanan memang sangat penting manakala kita dihadapkan pada masalah-masalah seputar kebiasan seksual anak-anak tersebut. Bahkan di kalangan anak jalanan, ada yang menjadikan seks sebagai mata pencaharian hidup. Anak jalanan ini lebih dikenal dengan sebutan perek. Dan celakanya, pengalaman seks anak jalanan menyebabkan mereka sangat rentan tertular virus HIV/AIDS.

Pada November 1996-Maret 1997, Yayasan Duta Awan melakukan survei pada 500 anjal di Semarang. Hasilnya, 90,4 % pernah berhubungan seksual, baik secara tidak rutin (48,4%), rutin 1 kali/bulan (6,5%), rutin 2-3 kali/bulan (16,2%), rutin 4-6 kali/bulan 6,4%), ataupun rutin 8 kali/bulan (12,9%). Sebanyak 22,8% dilakukan oleh anjal yang masih SD dan 47,9% oleh yang SLTP.

Sementara itu, hasil penelitian yang diberitakan oleh Penggiat Lembaga Perlindungan Anak Jawa Tengah, secara lebih khusus memperlihatkan 64,29% anak jalanan perempuan pernah berhubungan seksual (Surya, 21/11/00). Bahkan, hasil survei Yayasan Setara (1999) mengungkapkan bahwa 46,4% dari anak jalanan perempuan telah “memilih” profesi sebagai pelacur anak-anak.

Sayangnya pula tidak begitu banyak perhatian mengenai HIV/AIDS di kalangan anak jalanan termasuk promosi penggunanaan kondom  (LPA Jateng, 2008 hal 123). Dengan demikian perlu dilakukan program lanjutan untuk anak-anak yang telah memperoleh keterampilan di rumah singgah. Jadi apa yang diperoleh dapat digunakan untuk mencari kerja sehingga dapat keluar dari kehidupan jalanan.
Meski sulit mengubah dan menghilangkan perilaku seksual anak jalanan namun upaya serius dengan melibatkan banyak pihak sangat diperlukan. Karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk memberikan pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS sehingga pengetahuan anak jalanan dapat bertambah.

Deteksi dini status HIV, termasuk VCT bagi anak jalanan sebenarnya sangat bermanfa¬at, karena ODHA dapat mengikuti program pembinaan, baik yang di¬selenggarakan oleh pemerintah maupun LSM peduli AIDS. Se¬hingga, anak jalanan yang menjadi ODHA bisa hidup normal seperti masyarakat umum, dan tidak menularkan penyakitnya pada keluarga maupun orang di sekitarnya.

Perlu ada upaya multi sektor dan lintas bidang guna memecahkan persebaran HIV/AIDS di kalangan anak-anak jalanan. Pendekatan yang lebih manusiawi, tidak menjadikan stigma bagi mereka apalagi pendekatan dengan hukuman sangatlah bermanfaat. Dalam konteks pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS pendekatan moral yang mencari kambing hitam tidaklah tepat dan tidak memadai. Harus dicari solusi reformatif dan menyentuh akar masalah.

Sumber : YAHRENSOS

Dialog RRI : Peran IT Memajukan Pertanian

InformationTechnology (IT) sudah dimanfaatkan  ke seluruh bidang kehidupan. “Sayangnya, diIndonesia, pemanfaatan IT untuk pertanian masih rendah di banding bidangindustri otomotif,” ungkap Direktur Komunikasi dan Sistem Informasi InstitutPertanian Bogor (IPB), Prof.Kudang Boro Seminar dalam acara Dialog Sore RadioRepublik Indonesia (RRI), Selasa (22/6) di RRI Bogor. Prof. Kudang mencontohkanperan IT dalam memajukan pertanian. Dahulu pemilihan lahan dilakukanberdasarkan pengalaman di lapang dan pengamatannya sangat konvensional yangbelum tentu akurat . Lanjut Prof.Kudang, dengan menggunakan satelit dan Global Positioning System(GPS) , kitabisa memilih lahan yang cocok berdasarkan jenis tanamannya, masa tanam (musiman,  jangka pendek atau jangkapanjang) dan variabel lainnya.  Pemerintah bisa memakai GPS untuk mengawasilahan di seluruh Indonesia.

Penggunaan IT juga bisa mengurangi aktivitasfisik petani sehingga petani dapat mengalokasikan kegiatannya pada hal-hal yanglebih positif. Aktivitas fisik petani dapat digantikan dengan penggunaanalsintan dan harvester (alatpemanen). Selain itu, pekerjaannya akan lebih efisien dan akurat. “Jumlahpenyuluh pertanian yang terbatas dapat terbantu dengan pengembangan electronic book (e-book)dan sistem belajar jarak jauh dalam bentuk electroniceducation (e-education) .Tentunya semua buku, panduan penyuluhan pertanian, cara budidaya tanaman danteknologi tepat guna sudah terhubung dalam jaringan internet,” papar Prof.Kudang.

Melalui kecanggihan handphone (HP) sekarang, petani dapat mengakses berbagai informasitersebut. “Daripada HP-nya digunakan hal-hal yang kurang bermanfaat sepertichatting dan facebook bergosip ria, lebih baik petani menggunakan HP-nya untukmeningkatkan produktivitas pertaniannya,” kata Prof. Kudang.

Untuk mendorong pemerintah mengaplikasikan GPSkhususnya di bidang pertanian, para ahli informatika bidang pertanian saat initelah membentuk Himpunan Informatika Pertanian Indonesia (HIPI). Di tingkatAsia berdiri juga The Asian Federationfor Information Technology in Agriculture (AFITA). “Bulan Oktober mendatang kami akanmenyelenggarakan konferensi internasional agar gaung penggunaan IT dalam bidangpertanian setara dengan bidang industri otomotif dan lainnya,” tandas KetuaAFITA wilayah Indonesia ini. (ris)

Rabu, 30 Juni 2010 – http://www.ipb.ac.id/?b=1659

Older posts

© 2017

Theme by Anders NorenUp ↑